Jangan Biarkan Laut Biru Pasang Bergelombang

Tag

, ,

@hikmah 9

blue1sr8Seperti yang telah disepakati sebelumnya, malam itu bertiga kami akan pergi bersama. Dipilih rumah Fulan sebagai tempat berkumpul karena letaknya yang paling dekat dengan lokasi acara. Tak ada ketentuan jam berapa berangkat dari rumah, yang terpenting sebelum adzan Isya berkumandang kami harus sudah berkumpul di rumah Fulan. Bada’ sholat Isya di mushola Baiturrohman, dekat rumah Fulan, kami langsung menuju ke tempat acara diadakan. Jika tak salah perhitungan, kami akan tiba di lokasi beberapa menit sebelum acara dimulai.

Seperti sebuah kebetulan – padahal tidak ada satupun yang terjadi secara kebetulan, semua telah Allah atur dan tetapkan – aku bertemu temanku di depan gang. Hanya berselang detik kami turun dari angkot yang kami tumpangi. Bahkan, sejak belok dari pertigaan kantor kecamatan, angkot yang kami tumpangi melaju beriringan.

Tiba di depan pintu rumah Fulan, sebelum kami sempat mengucap salam, kami mendengar suara seperti orang sedang marah dari dalam rumah Fulan. Sepengetahuan kami, Fulan hanya tinggal bertiga bersama istri dan anak tunggalnya, tak ada orang lain lagi yang tinggal di rumah sederhananya. Meski tidak setiap hari kami datang ke rumah Fulan, kami cukup hafal dengan suara yang baru saja kami dengar. Tak salah lagi, itu suara istri Fulan, yang entah karena ada persoalan apa, sepertinya dia sedang marah terhadap Fulan. Tapi selama kami berdiri terpaku di depan pintu – layaknya orang linglung tak tahu harus berbuat apa, mengetuk pintu atau sebaiknya balik kanan saja, membatalkan rencana – tak sekalipun terdengar suara Fulan.

Kami tak bisa menyembunyikan salah tingkah saat Fulan membuka pintu, meminta kami menunggu sebentar. Dia melambaikan tangan, menyuruh kami tak terus-terusan meminta maaf.

Perasaan tak enak tetap membayangi meski setengah jam berikutnya kami telah berjalan bersisian menuju tempat acara diadakan. Kami baru merasa lega setelah Fulan menceritakan duduk persoalan, mengapa sang istri marah padanya.

“Kasihan istriku. Sehari-harinya ia mengurus anak, rumah dan menyiapkan segala keperluanku seorang diri. Sedikit sekali pekerjaan yang bisa kubantu. Sebagian besar waktuku tersita untuk pekerjaan di kantor. Barangkali rasa capeklah yang memicu emosinya tadi. Karenanya aku mengalah, memilih diam tak membantah. Terlebih sebenarnya ada faktor kesalahanku juga. Aku lupa memberi tahu rencana kita.”

“Kalian tenang sajalah, semua sudah bisa diselesaikan dengan baik. . Alhamdulillah. Setelah kujelaskan, ia bisa mengerti dan mengijinkan aku pergi. Kalian lihat sendiri bukan, istriku tadi mengantar sampai di depan pintu?. Dan maaf apabila adegan cium tangan dan kening tadi membuat kalian iri hati!.” Fulan terkekeh, sengaja menggoda kami yang memang terlihat sedikit bengong melihat adegan seperti yang Fulan sebutkan. Jika tak melihat sendiri, sulit rasanya kami percaya. Beberapa menit sebelumnya masih bertengkar, secepat itu sudah akur kembali bahkan terlihat mesra sekali.

Ingatanku membawa pada sebuah kisah seseorang yang mendatangi rumah Khalifah Umar bin Khathab untuk mengadukan perihal sang istri yang marah-marah padanya. Namun niat itu akhirnya ia urungkan. Bagaimanalah ia akan mengadukan perihal rumah tangganya pada sang Khalifah bila beliau sendiri sedang dimarahi sang istri. Satu yang pasti, tak terdengar sekalipun suara sang Khalifah menjawab omelan sang istri. Itu pula yang kudapati pada Fulan. Hampir bisa kupastikan, Fulan meneladani pribadi sang Khalifah dalam mengatasi problematika rumah tangganya. Seorang laki-laki, suami, dengan segala kelebihannya bukan berarti ia harus selalu menang terhadap istri, wanita yang dengan tulus hati berusaha memenuhi tugasnya, melayani suami sebaik-baiknya.

“Apakah setiap ada masalah, secepat itu bisa kalian selesaikan?” aku tertarik untuk bertanya.

Fulan tersenyum sebelum menjawab. “Terus terang tidak. Ada kalanya kami saling berdiam diri, tapi tetap tak pernah lebih dari tiga hari. Dan bila terpaksa terjadi, kami sudah saling berjanji untuk tidak membawanya keluar rumah, ke tempatku bekerja. Meski emosi masih tinggi, masalah belum bisa diatasi, saya selalu pamit sebelum berangkat kerja ataupun pergi kemana. Begitupun istri, walau marahnya belum habis, ia akan menjawab salamku, mengantar sampai di depan pintu, mencium tangan dan menungguku mencium keningnya.”

Subhanallah! Aku memang tak melihat sendiri apa yang barusan Fulan katakan, tapi aku tak meragukan kebenarannya. Sesungguhnya yang demikian bukanlah hal yang mustahil. Juga bukan hal yang sulit seandainya kita mau mengusahakana. Jangan biarkan masalah berlarut-larut. Kalaupun belum tuntas diselesaikan, jangan dibawa keluar rumah, sampai mengganggu pekerjaan. Tinggalkan sementara persoalan, gunakan waktu jedanya untuk saling berinterospeksi. Bukan tidak mungkin, ketika kembali ke rumah, masalah bisa langsung diselesaikan karena masing-masing telah menyadari, mengerti dan juga memahami.

Ada satu kalimat dari Fulan yang akan terus kuingat. Barangkali Fulan mencupliknya dari judul atau syair sebuah lagu, tapi apapun itu menurutku sangatlah bijak. Fulan katakan, ketika perselisihan suami istri terjadi, pertengkaran tak bisa dihindari, jangan biarkan laut biru pasang bergelombang. Jangan sampai emosi semakin meninggi karena masing-masing tak mau mengalah, mengerti atau setidaknya mendengarkan. Pasti akan ada waktu untuk menjelaskan. Jangan maunya didengarkan, sediakan waktu pada untuk mendengar penjelasan. Banyak masalah menjadi jauh lebih besar dari semestinya karena masing-masing maunya didengarkan, tak mau mendengarkan sehingga penjelasan yang semestinya bisa menyelesaikan justru memperparah keadaan.

Satu kesadaran, sekaligus pelajaran kudapatkan dari ( rumah tangga ) Fulan. Sama, setiap rumah tangga tiada lepas dari permasalahan. Berbeda pandangan hingga berselisih dan bertengkar adalah bumbu-bumbu dalam berumah tangga. Tapi apa yang menjadi penyebab dan bagaimana mengatasinya, itu yang berbeda. Dan satu nasihat bijak , jangan biarkan laut biru pasang bergelombang, yang selama ini Fulan terapkan dalam rumah tangganya patut kiranya diterapkan dalam rumah tangga kita. Bagaimanapun, marah tak akan menyelesaikan masalah. Masalah lebih mudah diselesaikan bila salah satu pihak mau mengalah, jangan terpancing emosi walau sebenarnya berada di posisi yang benar.

Lakukan Yang Seharusnya Dilakukan

Tag

,

@hikmah 8

Roda-roda kereta baru berputar puluhan kali meninggalkan stasiun ketika tiba-tiba Fulan menepuk dahi.

“Apa yang tertinggal?” Aku bertanya spontan.

“Buku!”

“Buku kuliahmu?”

Fulan mengangguk, menyeringai, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Bila mataku melebar, sungguh bukan karena aku marah, tapi karena kekhawatiranku menjadi kenyataan. Meski sudah direncanakan jauh-jauh hari, ternyata Fulan lupa membawa buku kuliahnya. Celakanya,hanya dengan buku tersebut Fulan bisa mengerjakan tugas dari dosen S2 nya. Juga ia tak mempunyai waktu lagi untuk mengerjakan tugas tersebut kecuali di sela-sela acara. Besok lusa, tugas harus sudah dikumpulkan di awal pelajaran atau dianggap tidak mengerjakan bila sampai Fulan terlambat menyerahkan.

Hingga dua jam berlalu, Fulan masih tampak murung. Wajahnya mengkal. Berbagai saran yang kuajukan tak membawa banyak perubahan. Sang adik yang ia telpon lima belas menit sebelumnya memberi kabar melalui sms, mengatakan bahwa tak ada buku yang dimaksud di kamar Fulan.

Fulan menggeleng pelan saat kucoba menyarankan untuk menelpon teman kuliahnya, barangkali bukunya tertinggal di kelas dan ada salah satu dari mereka menyimpankan untuknya. Jika tak ada di rumah, besar kemungkinan buku tersebut tertinggal di kantor, bukan di kampus. Kemarin, usai istirahat dan makan siang, Noval, teman sebelah mejanya sempat mengingatkan Fulan agar tak lupa memasukan buku itu dalam tas atau ia akan kehilangan separuh waktu dan tenaganya untuk mencari buku sampai ke sudut kamar hotel sementara di sang buku justru tergolek manis di meja kantornya.

Apa yang dikhawatirkan Noval ternyata jadi kenyataan. Fulan lupa memasukkan buku tersebut dalam tas, dan aku melihat sendiri efeknya. Raut mukanya terlihat kesal, mengkal, resah dan juga gelisah. Bukan tak ikut prihatin bila aku sengaja menggoda, sibuk menghadirkan pengalaman lucu yang pernah kami alami bersama. Tujuanku hanya satu, Fulan berhenti menggerutu, terus menyalahkan diri sendiri. Lupa adalah salah satu kelemahan manusia. Apa yang bisa ia perbuat sekarang? Mondar-mandir di dalam gerbong kereta jelas tak menghadirkan buku super penting itu di hadapannya. Yang bisa ia lakukan terkait buku itu adalah menelpon Noval , memastikan apakah benar buku itu tertinggal di meja kerjanya. Juga meminta Noval mengirimkan buku tersebut melalui jasa pengiriman tercepat agar besok malam, di sela-sela acara, ia bisa mulai mengerjakan tugas kuliahnya. Kabar baiknya, buku itu memang ada di sana, di meja kerjanya. Tapi kabar buruknya, ia baru bisa melakukan itu, mendapatkan kepastian delapan jam ke depan karena Noval baru bisa melakukan semuanya esok pagi, setelah tiba di kantor.

Gagal membujuk Fulan, akhirnya aku memilih diam. Ahmad, teman seperjalanan kami yang dari awal lebih banyak diam, sesekali tersenyum melihat tingkah polah Fulan yang gelisah, memberi kode agar aku berhenti menggoda Fulan – namun kuabaikan – akhirnya mengeluarkan ‘azimat saktinya’. ”Sudahlah, Fulan. Lakukan apa yang seharusnya dilakukan. Jangan buang waktu percuma hanya untuk sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Nikmati perjalanan ini. Besok pagi, sebelum acara dimulai, kau bisa menelpon Noval. Minta ia datang ke kantor lebih awal, langsung memeriksa meja kerjamu, memastikan apakah benar bukumu tertinggal di sana. Jika benar, minta ia mengirimkan ke alamat hotel tempat kita menginap melalui ekspedisi paling cepat, jadwal pengiriman pertama. Insya Allah, besok bukumu sudah kau terima sebelum adzan maghrib dikumandangkan dari Masjid Raya.”

Fulan menghela napas panjang. Walau tak jauh berbeda dengan saranku, rupanya saran Ahmad lebih ia dengarkan. Lakukan apa yang bisa dilakukan sekarang. Jangan lewatkan kesempatan dengan larut dalam hayalan. Lakukan apa yang bisa dilakukan sekarang, jangan sebaliknya, melakukan sesuatu yang justru seharusnya tidak dilakukan, sebab akan percuma, sia-sia, buang waktu dan energi saja. Ini pelajaran pertama yang kupetik dari nasihat Ahmad pada Fulan.

Pelajaran kedua, apapun yang akan kita lakukan, rencanakan, persiapkan dengan matang. Jika terlalu banyak yang harus dipersiapkan, tak ada salahnya membuat check list untuk membantu memastikan bahwa apa yang kita butuhkan tidak ketinggalan. Ini menjadi penting agar kegiatan yang sudah direncanakan jauh-jauh hari tidak berantakan, akibat sesuatu yang sangat dibutuhkan malah tertinggal atau terlewatkan.

Gara-gara lupa membawa buku kuliahnya, Fulan harus membayar biaya pengiriman sejumlah hampir tiga ratus ribu rupiah, berkali lipat dari harga bukunya. Ini juga memberi kita pelajaran bahwa biaya bisa lebih ditekan bila kita telah menyiapkan segala sesuatunya dengan matang. Kalaupun sudah dipersiapkan tapi masih ada saja yang terlupa, ketinggalan, seperti yang dialami Fulan, itu karena kita adalah manusia, yang tiada luput dari salah dan juga lupa. Namun demikian, selalu ada hikmah dan pelajaran dari setiap kejadian, termasuk juga dari sebuah kesalahan dan kekhilafan. Semestinya, kita tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.339 pengikut lainnya.