Lakukan Yang Seharusnya Dilakukan

Tag

,

@hikmah 8

Roda-roda kereta baru berputar puluhan kali meninggalkan stasiun ketika tiba-tiba Fulan menepuk dahi.

“Apa yang tertinggal?” Aku bertanya spontan.

“Buku!”

“Buku kuliahmu?”

Fulan mengangguk, menyeringai, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Bila mataku melebar, sungguh bukan karena aku marah, tapi karena kekhawatiranku menjadi kenyataan. Meski sudah direncanakan jauh-jauh hari, ternyata Fulan lupa membawa buku kuliahnya. Celakanya,hanya dengan buku tersebut Fulan bisa mengerjakan tugas dari dosen S2 nya. Juga ia tak mempunyai waktu lagi untuk mengerjakan tugas tersebut kecuali di sela-sela acara. Besok lusa, tugas harus sudah dikumpulkan di awal pelajaran atau dianggap tidak mengerjakan bila sampai Fulan terlambat menyerahkan.

Hingga dua jam berlalu, Fulan masih tampak murung. Wajahnya mengkal. Berbagai saran yang kuajukan tak membawa banyak perubahan. Sang adik yang ia telpon lima belas menit sebelumnya memberi kabar melalui sms, mengatakan bahwa tak ada buku yang dimaksud di kamar Fulan.

Fulan menggeleng pelan saat kucoba menyarankan untuk menelpon teman kuliahnya, barangkali bukunya tertinggal di kelas dan ada salah satu dari mereka menyimpankan untuknya. Jika tak ada di rumah, besar kemungkinan buku tersebut tertinggal di kantor, bukan di kampus. Kemarin, usai istirahat dan makan siang, Noval, teman sebelah mejanya sempat mengingatkan Fulan agar tak lupa memasukan buku itu dalam tas atau ia akan kehilangan separuh waktu dan tenaganya untuk mencari buku sampai ke sudut kamar hotel sementara di sang buku justru tergolek manis di meja kantornya.

Apa yang dikhawatirkan Noval ternyata jadi kenyataan. Fulan lupa memasukkan buku tersebut dalam tas, dan aku melihat sendiri efeknya. Raut mukanya terlihat kesal, mengkal, resah dan juga gelisah. Bukan tak ikut prihatin bila aku sengaja menggoda, sibuk menghadirkan pengalaman lucu yang pernah kami alami bersama. Tujuanku hanya satu, Fulan berhenti menggerutu, terus menyalahkan diri sendiri. Lupa adalah salah satu kelemahan manusia. Apa yang bisa ia perbuat sekarang? Mondar-mandir di dalam gerbong kereta jelas tak menghadirkan buku super penting itu di hadapannya. Yang bisa ia lakukan terkait buku itu adalah menelpon Noval , memastikan apakah benar buku itu tertinggal di meja kerjanya. Juga meminta Noval mengirimkan buku tersebut melalui jasa pengiriman tercepat agar besok malam, di sela-sela acara, ia bisa mulai mengerjakan tugas kuliahnya. Kabar baiknya, buku itu memang ada di sana, di meja kerjanya. Tapi kabar buruknya, ia baru bisa melakukan itu, mendapatkan kepastian delapan jam ke depan karena Noval baru bisa melakukan semuanya esok pagi, setelah tiba di kantor.

Gagal membujuk Fulan, akhirnya aku memilih diam. Ahmad, teman seperjalanan kami yang dari awal lebih banyak diam, sesekali tersenyum melihat tingkah polah Fulan yang gelisah, memberi kode agar aku berhenti menggoda Fulan – namun kuabaikan – akhirnya mengeluarkan ‘azimat saktinya’. ”Sudahlah, Fulan. Lakukan apa yang seharusnya dilakukan. Jangan buang waktu percuma hanya untuk sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Nikmati perjalanan ini. Besok pagi, sebelum acara dimulai, kau bisa menelpon Noval. Minta ia datang ke kantor lebih awal, langsung memeriksa meja kerjamu, memastikan apakah benar bukumu tertinggal di sana. Jika benar, minta ia mengirimkan ke alamat hotel tempat kita menginap melalui ekspedisi paling cepat, jadwal pengiriman pertama. Insya Allah, besok bukumu sudah kau terima sebelum adzan maghrib dikumandangkan dari Masjid Raya.”

Fulan menghela napas panjang. Walau tak jauh berbeda dengan saranku, rupanya saran Ahmad lebih ia dengarkan. Lakukan apa yang bisa dilakukan sekarang. Jangan lewatkan kesempatan dengan larut dalam hayalan. Lakukan apa yang bisa dilakukan sekarang, jangan sebaliknya, melakukan sesuatu yang justru seharusnya tidak dilakukan, sebab akan percuma, sia-sia, buang waktu dan energi saja. Ini pelajaran pertama yang kupetik dari nasihat Ahmad pada Fulan.

Pelajaran kedua, apapun yang akan kita lakukan, rencanakan, persiapkan dengan matang. Jika terlalu banyak yang harus dipersiapkan, tak ada salahnya membuat check list untuk membantu memastikan bahwa apa yang kita butuhkan tidak ketinggalan. Ini menjadi penting agar kegiatan yang sudah direncanakan jauh-jauh hari tidak berantakan, akibat sesuatu yang sangat dibutuhkan malah tertinggal atau terlewatkan.

Gara-gara lupa membawa buku kuliahnya, Fulan harus membayar biaya pengiriman sejumlah hampir tiga ratus ribu rupiah, berkali lipat dari harga bukunya. Ini juga memberi kita pelajaran bahwa biaya bisa lebih ditekan bila kita telah menyiapkan segala sesuatunya dengan matang. Kalaupun sudah dipersiapkan tapi masih ada saja yang terlupa, ketinggalan, seperti yang dialami Fulan, itu karena kita adalah manusia, yang tiada luput dari salah dan juga lupa. Namun demikian, selalu ada hikmah dan pelajaran dari setiap kejadian, termasuk juga dari sebuah kesalahan dan kekhilafan. Semestinya, kita tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Spanyol

Tag

, , ,

@hikmah 7

Pertama kali dengar, aku mengira Fulan salah ucap. Yang kutahu selama ini, orang lebih sering menyebut produk-produk China harganya lebih murah dibanding produk impor dari negara lainnya. Tapi Fulan tak hanya menyebutkan sekali, lebih dari tiga kali menyebut barang Spanyol lebih murah dari produk manapun, termasuk dalam negeri, memancing aku untuk bertanya, bagaimana ia bisa seyakin itu?

Astaghfirulloh! Ternyata Spanyol yang Fulan maksudkan bukanlah nama negara di benua Eropa. Spanyol yang Fulan maksudkan adalah sebuah singkatan dari separo nyolong.

Entahlah, aku tidak tahu apakah Fulan yang baru seminggu kukenal bisa mengatakan seperti itu karena ia ( pernah ) terlibat di kegiatan perdagangan semacam ini, tapi dari ceritanya aku mendapat satu peringatan bahwa hati-hati dan teliti sebelum membeli adalah penting sekali. Jangan hanya mengutamakan harga yang ( lebih ) murah, tapi pikirkanlah soal berkah.

Ada beberapa alasan mengapa ada produsen atau penjual yang menjual produk mereka dengan harga ( jauh ) lebih murah dibanding harga di pasaran pada umumnya.Salah satunya adalah produk baru. Kita sudah maklum bila produk baru dijual dengan harga lebih murah dibanding produk lain dengan spesifikasi yang sama. Ini salah satu trik produsen atau penjual untuk menarik perhatian dan minat para calon pembeli. Juga bukan hal baru bila ada barang yang aspal, asli tapi palsu, bahkan kita terkadang pura-pura tidak tahu, tetap membeli barang tiruan karena faktor dana yang jadi alasan. Tapi selain dua hal tersebut, masih ada alasan lain, termasuk salah satunya seperti yang dikatakan Fulan, barang sepanyol, separo nyolong.

Aku tekun menyimak penjelasan Fulan mengenai barang sepanyol,separo nyolong. Dia katakan, barang-barang seperti ini biasanya didapat dari para distributor nakal yang mengurangi, menurunkan barang sebelum sampai tujuan. Terus terang aku belum pernah melihat yang seperti ini, tapi Fulan katakan oknum semacam ini memang ada, mulai dari kelas teri hingga kelas kakap. Dari merekalah kemudian para pedagang membeli dan menjualnya dengan harga yang lebih murah dibanding pedagang lainnya.

Benar kita memang tidak boleh berburuk sangka, tapi hati-hati dan waspada juga tak kalah pentingnya terlebih untuk hal yang berkaitan dengan halal dan haram. Ibarat warna hitam dan putih, haram dan halal jelas perbedaanya, namun di antara keduanya ada warna abu-abu, syubhat, samar hukumnya dan untuk yang demikian kita diperintah untuk meninggalkannya.

Tentu saja aku tak bermaksud men-judge bahwa mereka yang menjual dengan harga murah adalah seperti yang Fulan ceritakan. Seperti yang kusebutkan sebelumnya, ada beberapa alasan mengapa orang berani menjual produk lebih rendah dibanding harga pasaran, salah satunya adalah untuk memperkenalkan produk baru mereka kepada calon konsumen. Nanti ketika produk sudah dikenal dan digemari konsumen, mereka menerapkan harga normal untuk meraih target keuntungan yang sebenarnya. Yang jelas, tidak ada pelaku bisnis yang menjalankan usahanya untuk merugi, semua sama, menginginkan keuntungan. Sayangnya, tidak semua pelaku bisnis berlaku jujur. Salah satunya seperti yang Fulan katakan. Ada yang berani menjual dengan harga lebih rendah tapi tetap mendapatkan keuntungan karena barang yang mereka jual adalah barang sepanyol, separuh nyolong, yang secara logika juga dibeli dengan harga murah. Nauzubillah!.

Karenanya, sudah saatnya kita meningkatkan kewaspadaan, hati-hati dan teliti sebelum membeli. Bukan saja pada keaslian produk yang akan kita beli, tapi sudah saatnya pula kita peduli, dari mana asal barang yang akan kita beli. Tidak menjadi halal jual beli apabila produk yang diperjualbelikan adalah barang haram, barang curian. Jadi, jangan hanya mengejar yang murah, tapi carilah yang halal dan membawa berkah.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.334 pengikut lainnya.