Bersih Bersinar, Cerah Bercahaya

@hikmah 16

Ini bukan tentang produk pencuci piring, bukan pula produk perawatan tubuh dan kecantikan. Ini tentang si Fulan dan Fulanah yang memiliki kulit bersih bersinar dan wajah cerah bercahaya.

Seperti orang Indonesia pada umumnya, kulit Fulan dan Fulanah tidaklah putih, tidak juga hitam. Kita biasa menyebutnya sawo matang. Tapi yang terlihat beda dari mereka adalah kulit dan wajahnya yang bersih bersinar, cerah bercahaya.

Tidak! Mereka tidak menggunakan aneka macam produk yang setiap hari iklannya muncul di televisi, masing-masing mengklaim bisa membuat kulit dan wajah terlihat bersih, putih merona dan bahkan – katanya – mampu menolak tanda-tanda penuaan. Sebagaimana yang lainnya, Fulan dan Fulanah mandi dua kali sehari, menggunakan sabun dan pembersih muka yang biasa orang lain gunakan. Tapi bila kulit dan wajah mereka terlihat lebih bersih bersinar, cerah bercahaya, itu karena mereka melakukan apa yang orang lain tidak lakukan.

Ini bukan rahasia, banyak orang yang tahu, tapi tak sebanyak itu yang mengerjakannya. Kulit dan wajah Fulan dan Fulanah terlihat bersih bersinar, cerah bercahaya karena mereka selalu menjaga wudhu. Bila orang lain berwudhu lima kali sehari, sebelum sholat, maka Fulan dan Fulanah berwudhu lebih dari itu. Bila batal, mereka segera berwudhu.

Wudhu bukanlah pekerjaan yang susah, tapi membiasakannya memang tidak selalu mudah. Di awal, Fulan dan Fulanah bahkan harus ekstra sabar, termasuk menghadapi pertanyaan hingga sindiran rekan-rekannya.

“Kamu sakit perut? Ngantuk? “ pertanyaan ini sering dilontarkan rekan-rekannya yang heran melihat Fulan dan Fulanah bolak balik ke kamar mandi dan muka basah saat kembali.

“Sholat apa, kok jam segini wudhu?” pertanyaan berubah ketika Fulan dan Fulanah menjelaskan bahwa ia sering ke kamar mandi bukan lantaran sakit perut, bukan pula membasuh muka karena ngantuk. Ia ke kamar mandi untuk memperbarui wudhu.

Mengapa Fulan dan Fulanah mau berepot-repot ( menurut pandangan beberapa rekan mereka ) memperbarui wudhu? Tidakkah cukup ketika hendak sholat saja?

Selain bersuci merupakan sebagian dari iman, di akhirat kelak orang yang rajin berwudhu akan terlihat bercahaya sehingga Rosululloh SAW akan mengenali ia sebagai umatnya. Selain menghapus kesalahan-kesalahan yang diperbuat oleh jasad, berwudhu juga dapat menggugurkan dosa-dosa kecil serta meninggikan derajat. Menjaga wudhu juga merupakan amal yang mendorong dibukanya pintu syurga bagi yang mengamalkannya. Alasan inilah yang mendorong Fulan dan Fulanah selalu berusaha untuk menjaga wudhunya. Selain menjaga dari berbuat maksiat, alangkah indahnya apabila saat kembali, menghadap Allah, kita dalam keadaan berwudhu.

Sekali lagi, wudhu memang pekerjaan ringan tapi terasa berat sebelum dibiasakan. Semoga kita bisa memiliki kulit yang bersih bersinar, cerah bercahaya seperti Fulan dan Fulanah. Tak harus bersusah payah, menggunakan berbagai macam produk dengan harga yang tidak murah, ada cara yang mudah dan bernilai ibadah. Berwudhulah! Tentu saja, niatkanlah karena Allah semata, mengharap ridho Nya. Ketika Allah ridho denga yang kita kerjakan, walau tak kita minta akan Ia berikan. Insya Allah.

Jujur Ucapmu, Jujur Lakumu

@hikmah 15

Sebelum menikah, Fulan dan Fulanah sepakat untuk menjadikan kejujuran dan kesetiaan sebagai pondasi dan tiang rumah tangga mereka.

“Janganlah dirimu berdusta, nanti hatiku berduka,” pinta Fulanah manja.

“Aku jamin tak akan ada dusta diantara kita!” Fulan mengutip judul lagu yang pernah populer pada masanya.

Hari berganti, bulan berlalu dan tahunpun begitu. Rumah tangga Fulan dan Fulanah berjalan sebagaimana umumnya. Setidaknya sampai di tahun ketiga, karena tahun berikutnya pemahaman kejujuran di antara keduanya mulai berbeda.

“Kenapa kamu menangis?” tanya Fulan satu ketika.

Tak ada jawaban. Hanya air mata Fulanah yang terus bercucuran.

“Bukankah selama ini aku selalu jujur padamu?”

Fulanah semakin tersedu. “Bukan, bukan seperti ini yang kumau. Yang kuminta bukan hanya jujur perkataanmu, tapi juga perbuatanmu.”

Masih berlinang air mata, Fulanah menumpahkan seluruh perasaan yang menyesaki dadanya. Tak pernah ia menyangka jika selama ini nafkah yang ia terima ternyata bercampur barang haram. Sungguh, ia lebih rela makan sehari sekali dari pada tiga kali tapi dari hasil korupsi.

Jujur dalam ucapan dan juga perbuatan, itu yang diminta Fulanah pada Fulan. Hal ini pula yang kita minta pada pasangan, juga sebaliknya. Sebuah pengakuan tidak serta merta membuat yang halal menjadi haram. Tak terhapus dosa atas maksiat yang dikerjakan hanya dengan mengakui perbuatan.

Tak salah bila Fulanah terluka hatinya tatkala mendengar pengakuan Fulan atas nafkah yang ia berikan. Apalah artinya jujur yang keluar dari bibir bila hati, tangan dan kaki berlaku sebaliknya.

Wahai diri, jujurlah selalu, baik hati, ucap maupun perbuatanmu!

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 1.365 pengikut lainnya.