Seperti Pakaian

@hikmah 14

“Ngomongnya sih dulu begitu, di mana ada kamu, di situ ada aku, tapi sekarang nyatanya yang satu kemana, satunya lagi di mana!”

Entah pengalaman apa yang dimiliki Fulan, terdengar sinis ia mengomentari sebuah lagu yang pernah hits di tahun 80-an yang baru saja diputar di salah satu komputer di ruang kerjaku.

“Saat masih pacaran, berbagai ungkapan dan perumpamaan terdengar indah. Ada yang bilang bagai bunga dan kumbang, tak terpisahkan. Sayangnya banyak bunga yang bernasib malang. Saat masih bermadu banyak kumbang yang datang, ketika habis madunya sang kumbang jalang kembali terbang!”

Bak api terpercik bensin, berbagai komentar terus bersahutan dari rekan-rekan di sekelilingnya. Dari semua komentar yang kadang asal dan berlebihan hingga yang penuh kesungguhan, ada satu yang menggugah kesadaran yaitu ketika salah satu dari mereka mengatakan bahwa suami istri itu hendaknya seperti pakaian.

“Seperti pakaian?” kompak beberapa rekan lain bertanya, penasaran.

Maka dengan penjelasan yang sederhana namun mengena, ia menerangkan maksud sepasang suami istri seharusnya seperti pakaian.

“Benarkah demikian?”

Seorang rekan tiba-tiba bertanya padaku yang sedang khidmat menyimak, membuatku sedikit gelagapan.

“Ya, aku sepakat dan sependapat bahwa semestinya suami istri itu layaknya pakaian. Suami istri harus saling menutupi aib pasangannya, menjaga harga diri satu sama lain, bukan sebaliknya, beralasan mencari solusi atas permasalahan yang sedang dihadapi, kemudian curhat kesana kemari. Akhirnya bukan solusi yang didapatkan tapi rahasia yang harusnya simpan malah jadi bahan pembicaraan. “

Aku berhenti sejenak, mengingat-ingat apa yang tadi kudengar, berusaha menyimpulkan dengan kalimat yang paling sederhana namun tak merubah makna.

“Ibarat pakaian dan manusia, tidak ada pemisah, begitupun suami istri, hubungan keduanya haruslah erat, tidak ada orang asing diantara keduanya, mencampuri urusannya. Bila kita memilih pakaian menyesuaikan musim atau udara yang dirasa, maka suami istri harus bisa menempati posisi yang tepat pada situasi yang tepat. Saat salah satu tak bisa menahan emosi, janganlah yang satu mengompori tapi berusaha meredamnya dengan kelembutan. Dan jika pakaian bisa menghangatkan badan, maka suami istri harus bisa menghangatkan keluarganya, jauhkan sifat dingin, acuh tak acuh diantara mereka.”

“Yang terakhir, bila pakaian adalah juga perhiasan, maka suami istri seharusnya menjadi perhiasan bagi lainnya. Bukan begitu kesimpulannya?” aku bertanya pada rekan yang pertama mengatakan suami istri layaknya pakaian, memastikan bahwa kesimpulanku, meski ada kurang lebihnya, tidaklah keluar dari apa yang telah dijelaskan dengan panjang lebar.

“Benar! Lalu bagaimana dengan kalian, apakah sudah menjadikan istri masing-masing layaknya pakaian?”

Ia membenarkan kesimpulanku dan bertanya pada rekan lainnya, tentang kedudukan istri masing-masing di mata mereka. Sayangnya aku tak bisa dan tak berani mengartikan ekspresi yang terlihat di wajah mereka yang cengengesan.

Bagaimana dengan sahabat? Sepakat dan sependapatkah bahwa kedudukan suami istri bagai pakaian satu sama lain? Dan apakah sudah mengaplikasikannya secara baik dan benar, ayat Al Quran; هن لباس لکم وانتم لباس لهن “…mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka..” ( QS> Al-Baqarah : 187 )? Insya Allah.

Jangan Bedakan Yang Sama, Jangan Samakan Yang Beda

@hikmah 13

“Lha wong sama, kok dibeda-bedakan!” celetuk seorang rekan di sebelah kiriku.

Aku mengangguk, mengiyakan.

“Jelas-jelas beda, kok disamakan!” gumam seorang rekan di sebelah kananku.

Aku mengangguk, membenarkan.

Mengapa aku terkesan seperti plin-plan? Tidak! Aku tidak plin-plan. Aku mengangguk pada lain orang, lain kesempatan dan juga lain alasan.

Komentar pertama datang dari seorang rekan, sesaat setelah menerima sebuah undangan. Aku yang awalnya tak begitu memperhatikan, mengambil kembali undangan dari laci meja, membandingkan dengan yang ada di tangannya. Ternyata undangan untukku dan untuknya memang berbeda. Entah disengaja atau tidak, tapi perbedaan itu menunjukkan pula perbedaan bagian dan jabatan kami dalam perusahaan.

Bagiku, sebagai penerima undangan, perbedaan semacam ini tidaklah menjadi persoalan. Tanpa mengecilkan maksud dan penghormatan yang diberikan si pemberi undangan, setelah siapa yang memberi undangan, hal yang kuperhatikan adalah waktu dan tempat acara diadakan. Sederhana atau istimewa, bagus atau biasa, keduanya berakhir sama, disimpan dalam laci dan berujung di tempat sampah bersama kertas dan barang tak terpakai lainnya. Tapi komentar rekan tersebut memberiku satu peringatan bahwa jika satu saat nanti aku mengundang rekan dan teman, sahabat juga kerabat untuk satu acara, akan lebih ‘aman’ bila undangannya dibuat sama, jangan dibeda-bedakan, terlebih bila mereka adalah sesama rekan satu perusahaan. Bagaimanapun ini menyangkut perasaan si penerima undangan.

Komentar kedua datang dari seorang teman, saat mengantri di pintu masuk sebuah acara hajatan. Satu pintu yang disediakan pihak panitia membuat antrian panjang tak terhindarkan. Yang dikeluhkan temanku adalah tamu pria dan wanita berbaur jadi satu. Mengapa dianggap sama, padahal tamu yang datang jenis kelaminnya berbeda.

Karena aku belum pernah mengadakan acara yang mengundang banyak tamu, menurutku komentar temanku layak dipertimbangkan. Seringkali luput dari persiapan panitia, pintu dan lokasi terpisah antara tamu pria dan wanita. Barangkali justru akan terlihat aneh, mengundang banyak reaksi maupun ekspresi terutama bagi tamu yang belum bisa memahami maksud dan tujuan pembedaan pintu dan tempat antara tamu pria dan wanita adalah untuk menghindari keduanya – yang bukan muhrim – berbaur menjadi satu. Kalaupun ada yang datang bersama pasangan, rasanya tak akan mengurangi kemesraan bila mereka terpisah sementara saat datang dan manikmati hidangan.

Terlepas dari dua hal di atas, komentar teman dan rekanku memberiku satu kesadaran dan peringatan bahwa yang sama jangan dibeda-bedakan, dan yang beda jangan disama-samakan. Perlakukan masing-masing sebagaimana mestinya, dengan baik dan benar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.363 pengikut lainnya.