Jalan Kematian

Tag

, , , ,

*seri ingat mati #7

“Alhamdulillah, Bapak dan Ibu sudah tiba di rumah, sehat wal afiat,” Sebuah pesan masuk ke handphoneku, dari seorang sahabat terbaikku saat masih bekerja di perusahaan yang dulu.Satu setengah bulan yang lalu, bapak dan ibu mertua dari sahabat yang akrab kupanggil Pakde ini berangkat ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Ada satu hal yang sempat menjadi kekhawatiran sebelum mereka berangkat, yaitu berita tentang virus Ebola dan Mers yang ganas dan mematikan. Hanya kepasrahan dan ketawakalan kepada Allahlah yang menjadikan mereka tetap ringan melangkah menyempurnakan rukun Islam yang kelima.

Ebola dan Mers bukanlah yang pertama ‘mengguncang’ dunia dengn keganasannya, sebelumnya pernah ada flu burung dan flu babi yang sangat mengerikan. Masih lekat dalam ingatan, ganasnya flu burung yang telah merenggut ratusan nyawa manusia di seluruh dunia termasuk Indonesia. Flu burung pula yang menyebabkan ribuan unggas mati atau sengaja dimusnahkan, karena memang dari sanalah sumber virus ini berasal. Awalnya virus ini menular dengan cara kontak langsung antara manusia dengan unggas, mengkonsumsi daging atau telurnya. Namun dalam waktu yang singkat, virus ini semakin ganas, sehingga penularannya tidak hanya melalui kontak manusia dengan unggas atau mengkonsumsinya, tapi menular antar manusia.

Kemudian, setelah beberapa waktu kabar flu burung mereda, tiba-tiba muncul kabar yang tak kalah menghebohkan yaitu berkembangnya virus flu babi yang dalam waktu singkat sudah memakan korban ratusan jiwa manusia. Virus flu babi ini pertama kali diketahui menyebar di negara Mexico. Dalam waktu singkat, virus ini telah menyebar ke negara-negara lain melalui orang-orang yang diketahui sebelumnya telah berkunjung dari Mexico. Sama seperti flu burung, flu babi semula juga menular melalui kontak langsung atau dengan mengkonsumsi dagingnya. Tapi belakangan tersiar kabar bahwa flu babi juga bisa menular dari manusia ke manusia.

Bagi seorang muslim, penularan flu babi melalui kontak atau mengkonsumsi daging babi bisa saja tidak begitu mengkhawatirkan, karena larangan untuk kontak ataupun mengkonsumsi daging babi sudah ada sejak 14 abad silam, jauh sebelum issu flu babi ini muncul. Islam mengharamkan kita untuk mengkonsumsi daging babi dan olahannya, salah satu hikmahnya adalah seperti yang sekarang terjadi.

Lalu ketika virus ini mulai mengganas, sehingga penularannya bisa melalui manusia, apa yang mesti kita lakukan? Waspada itu sudah jadi hal yang mutlak. Selain itu ada hal yang lebih utama yaitu mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan memperbanyak ibadah dan doa. Kita boleh saja cemas dengan Ebola, Mers, flu babi atau flu burung sekalipun, tapi bagaimanapun harus kita sadari dan kita yakini bahwa kematian adalah hal yang pasti terjadi bagi setiap makhluk hidup, dan flu babi, flu burung atau yang terbaru virus Ebola dan Mers, hanyalah salah satu jalan menuju kematian tersebut. Yang harus lebih ditakutkan adalah bagaimana seandainya virus-virus ganas tersebut masuk ke negara kita, menyerang kita atau keluarga kita sementara perbekalan kita menuju akhirat belum memadai.

Jadi, ketika takut virus menyerang kita, maka lebih takutlah jika kematian datang, sementara kita belum memiliki perbekalan yang cukup untuk hidup di kehidupan selanjutnya.

Satu Dari Sekian Jalan

Tag

*seri ingat mati #6

Sahabat dan kerabat Abi, sebelumnya mohon maaf apabila beberapa waktu lalu postingan seri ingat mati sempat terhenti dan diselingi dengan postingan-postingan lain yang sengaja diprioritaskan karena beberapa pertimbangan, salah satunya soal momentum, dimana maknanya akan sedikit berbeda jika postingan tersebut saya postingkan belakangan setelah momentnya berlalu. Insya Allah, 6 seri ingat mati yang masih tersisa sekarang sudah rapi di daftar antrian, siap untuk dipublikasikan. Seri ingat mati kali ini berjudul Satu Dari Sekian Jalan. Semoga bermanfaat. Aamiin.Sahabat dan kerabat Abi masih ingat dengan kecelakaan pesawat Malaysia Airlines MH17 yang terjatuh di wilayah Ukraina pertengahan bulan Juli lalu dan menewaskan ratusan penumpangnya, diantaranya penumpang berkewarganegaraan Indonesia? Bukan, postingan ini bukan untuk membahas berita yang sudah dilupakan banyak orang, kecuali keluarga yang menjadi korban, namun dari obolan dengan beberapa rekan kerja – yang entah bagaimana mulanya hingga obrolan sampai pada berita ini – ada pelajaran berharga yang ingin saya bagikan.

“Gara-gara setiap hari mendengar berita tentang berita jatuhnya pesawat MH17, anakku merubah cita-citanya,” ucap salah satu rekanku membuka obrolan.

“Memangnya anakmu bercita-cita jadi apa? Pilot, pramugari, dokter atau anggota tim SAR?” rekan yang lain menanggapi.

“Sebelum kejadian ini, dia selalu menjawab ingin menjadi pilot saat ditanya cita-citanya bila sudah besar nanti. Katanya biar bisa keliling dunia, kemana-mana naik pesawat gratis.” jawabnya sambil terkekeh. “Tapi dia berubah pikiran setelah melihat berita di televisi kemarin.” Ia menambahkan.

“Lalu kamu bilang apa?” Rekan yang lain jadi penasaran.

“Aku sih tidak terlalu serius menanggapinya. Bisa jadi itu hanya trauma sesaat. Aku beri penjelasan padanya bahwa tidak masalah ia merubah cita-citanya, bahkan meski kelak ia merubahnya lagi. Yang menjadi masalah adalah apabila ia merubahnya karena takut mati, padahal menjadi pilot, pramugari atau apapun, semuanya akan mati. Seperti halnya orang yang meninggal karena sakit, maka kecelakaan yang terjadi pada pesawat MH17, hanya satu dari sekian jalan maut datang menjemput. Bukan karena naik pesawat yang menyebabkan mereka mati, tapi karena sudah sampai pada waktunya, sesuai yang tertulis di Lauhul Mahfuz.”

“Setelah kau jelaskan, anakmu kembali berubah pikiran?”

“Tidak juga. Tapi setidaknya dia sadar bahwa setiap makhluk yang bernyawa pasti akan merasakan mati.”

“Jujur, aku juga jadi ragu-ragu untuk naik pesawat. Kemarin-kemarin aku ingin sekali merasakan naik pesawat, entah kemana yang penting naik pesawat, tapi sekarang tidak lagi.” Seorang rekan yang sejak awal diam mendengarkan, mengungkapkan ketakutannya.

“Manusiawi sebenarnya. Aku sendiri sebenarnya juga takut ketinggian. Tapi dengan berbagai kelebihan dibanding alat transportasi lainnya, kita harus singkirkan rasa cemas yang berlebihan. Yang terpenting sebelum bepergian, pastikan bahwa niat dan tujuannya benar, tidak untuk bermaksiat. Kemudian jangan lupa berdoa, mohon perlindungan kepada Allah agar diselamatkan sampai tujuan, di mudahkan setiap perkara dan dilancarkan setiap urusan. Kalau semua sudah kita lakukan, pasrahkan semuanya pada Allah Yang Maha Kuasa. Kalaupun maut menjemput kita saat dalam perjalanan, semoga tetap dalam keadaan Islam dan iman. Khusnul khotimah bukan hanya mereka yang meninggal di atas tempat tidur yang empuk, tapi bagi siapapun yang mengingat Allah dan rosul Nya di saat detik-detik terakhir ajalnya.” Panjang lebar rekan kerjaku yang kerap pulang ke kampung halamannya menggunakan pesawat memberikan tips sekaligus mengingatkan pentingnya berdoa agar perjalanan menjadi aman dan nyaman.

Mari kita sama-sama ambil hikmah dan pelajaran dari kejadian ini, bahwa dengan jalan dan cara yang ( mungkin ) berbeda, kitapun akan menyusul mereka karena sebenarnya kita semua sedang berada dalam antrian yang kita tidak tahu di nomor berapa, setelah siapa. Tapi yang jelas, dari hari ke hari antrian kita semakin maju, karenanya pastikan bahwa kita telah siap dengan perbekalan yang dibutuhkan yaitu amal sholeh, jangan salah bekal, jangan keluar dari jalur yang ditentukan dan jangan bergerak kita kecuali dengan mengingat dan dalam rangka mendekat pada Yang Maha Kuasa, Allah swt.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.229 pengikut lainnya.