Pindah Rumah


Banyak cara dilakukan orang untuk menaikkan dan mengembalikan gairah hidup yang menurun atau bahkan menghilang akibat berbagai alasan. Mulai dari mengkonsumsi beberapa vitamin dan makanan, berolah raga, rekreasi hingga merubah pola hidup dari yang monoton menjadi lebih bervariasi. 
Aku sendiri punya satu trik untuk mengembalikan gairah menulis yang belakangan menurun drastis, yaitu dengan pindah rumah. Pindah rumah? Ya, pindah rumah. Harus se-ekstrim itukah?


Sebenarnya tidak selebay itu juga untuk aku bisa kembali menulis. Benar bahwa di akhir tahun ini aku berencana untuk pindah rumah. Selama ini di KTP ku tertera alamat Jakarta, tapi kenyataannya aku berdomisili di Tigaraksa dan menjemput rejeki di Serang. Agar tak membingungkan, mulai tahun depan satu dari alamat itu akan kuhapus, cukup Serang dan Jakarta saja yang kusebut ketika ada yang bertanya aku berasal atau tinggal di mana.
Pindah rumah yang kumaksudkan untuk memulihkan gairah menulis adalah berpindah dari blogspot ke salah satu layanan blog yang sebenarnya sudah pernah kucoba sebelumnya. Di manakah itu? Rumah baru tempat aku belajar menulis itu saat ini sedang dalam tahap pembenahan, sebagian isi dari blog sederhana dan serba seadanya ini sudah mulai dipindahkan, namun linknya belum bisa aku publikasikan. Walau demikian, setidaknya ada dua kontes menulis dan satu event yang sedang kuikuti dengan dan atas nama blog baru tersebut. Harapanku, di rumah yang baru itu aku bisa lebih optimal belajar; apapun, kapanpun dan di manapun.
Lalu, bagaimana nasib rumah sederhana dan serba seadanya ini? Bagaimanapun, banyak pembelajaran yang aku dapatkan, juga kenangan tak terlupakan dari blog ini, karenanya tak ada alasan untuk aku menghapus atau membekukannya. Biarkan blog sederhana dan serba seadanya ini tetap ada, sebagai salah satu tanda bahwa Abi Sabila pernah ada dengan segala kurang dan lebihnya.
Sebagai gambaran, berikut screenshot rumahku yang baru. Tak ada larangan bagi siapapun untuk bersialturahim di sana, meskipun rencana grand launchingnya baru akan diadakan awal tahun depan.
Sampai bertemu di rumahku yang baru. Semoga di sana kita bisa lebih maksimal mengupayakan menjadi pribadi yang lebih baik lagi, dari hari ke hari. Amiin.

Menulis Lagi

Lesu darah, tak lagi bergairah. Begitulah yang aku rasakan. Jika dulu bisa seminggu dua kali, maka kini dua minggu sekali pun sudah terbilang bagus, bahkan pernah hingga hitungan bulan baru bisa aku lakukan. Maaf sahabat dan kerabatku, jangan berpikir negatif dulu, karena yang kumaksud bukan ‘gairah yang itu’ melainkan gairah menulisku.

Lihatlah, tahun 2013 segera berakhir, namun hanya ada belasan tulisan yang aku post di blog yang sederhana dan serba seadanya ini. Bukan hanya di sini, tapi di beberapa website yang biasa kutitipi hasil belajar menulisku pun tahun ini bisa dihitung dengan jari. Termasuk keinginan untuk menerbitkan buku kedua, terhenti di tengah jalan. Delapan puluh persen tulisan sudah disiapkan, sisanya masih dalam angan. Ide-ide sudah didapatkan, bahkan judul yang diunggulkan juga sudah ditetapkan. Tapi mempersembahkannya sebagai hadiah saat hari kelahiran istri, ataupun ulang tahun pernikahan kami, masih sebatas mimpi.
Merubah tagline dari Remah-Remah Hikmah menjadi Mengeja kata, itulah yang akhirnya kulakukan. Aku merasa benar-benar harus kembali belajar mengeja kata demi kata untuk merangkainya menjadi sebuah tulisan yang bukan saja enak dibaca tapi juga mengandung makna. 
Berbagai kesempatan dan ajakan untuk menulis, praktis aku lewatkan. Tawaran menggiurkan dari penerbit yang dulu mewujudkan mimpiku, aku abaikan. Begitu juga giveaway dengan hadiah luar biasa yang disediakan oleh sahabat blogger, tak kunjung memberiku energi untuk menulis lagi.
Kita berkeinginan, Allah memberi jalan, begitu yang pernah kutuliskan, dan kini (kembali) aku rasakan. Bermula dari sebuah email seorang sahabat, perlahan aku mulai bersemangat. Sebuah antologi terbaru berhasil menembus toko buku terkemuka dan sudah beredar di beberapa kota besar di Indonesia. Juga ketika seorang dosen memberi tugas presentasi, tiga orang dalam kelompokku langsung sepakat mempercayakan padaku, karena temanya sangat cocok dengan minatku, menulis. Terus terang ada rasa malu terselip dalam hatiku. Bagaimanalah aku akan memberikan motivasi menulis kepada tiga puluh enam mahasiswa lainnya jika aku sendiri justru merasakan yang sebaliknya. Aku tak boleh jadi orang munafik, jika orang lain kuajak untuk menulis, maka aku juga harus (kembali) menulis.
Tak hanya itu, seperti sebuah kebetulan, padahal tidak ada satupun kejadian kecuali sebelumnya telah Allah tetapkan, Mas Budhi ( Insan Robbani ) yang cukup lama tak saling berkomunikasi, tiba-tiba menyapaku. Pada beliau, aku sempat curhat terkait penurunan semangat menulisku. Sementara Mas Budhi justru baru saja menerbitkan sebuah buku. Subhanallah walhamdulillah.
Antologi, presentasi, obrolan dengan Mas Budhi, ketiganya tak lepas dari menulis. Ini bukan semata kebetulan, melainkan sinyal yang Allah berikan agar aku kembali membenahi keinginan, merubah mimpi jadi kenyataan. Antologi memberiku kepercayaan, presentasi memberiku kesadaran, dan Mas Budhi memberiku keyakinan bahwa menulis adalah memang yang ingin kulakukan.
Dengan mengucap Bismillah, berharap penuh mendapat kekuatan dan keberkahan, kuniatkan dalam hati untuk  ( kembali ) berbagi banyak hal melalui tulisan. Di tahun 2014;
- aku harus kembali aktif ‘menyapa’ para pengunjung setia eramuslim, kotasantri dan dakwatuna.
- aku harus lebih bisa mengelola blog dengan maksimal agar sewa domainnya tak menjadi sia-sia.
- sebelum hari kelahirannya, aku harus bisa menghadirkan sebuah senyum penuh makna di wajah istri tercinta karena buku berjudul Satu Kupinta, Seribu Kuterima memang aku tulis spesial untuknya.
  
Apa lagi yang harus kukata, bila satu kupinta, seribu kuterima?
Apa lagi yang harus kuucap, bila satu kuharap, seribu kudapat?
Terlalu lama paragraf pembuka ini terbiarkan, saatnya kini diteruskan agar tahun depan bisa dibukukan. Seperti yang menjadi ide penulisan, semoga menerbitkan buku kedua, ketiga dan seterusnya menjadi bagian dari beribu keinginan yang Allah kabulkan. Amin.
Artikel  ini diikutsertakan pada KontesUnggulan:Proyek Monumental Tahun 2014.
http://abdulcholik.com/2013/11/01/kontes-unggulanproyek-monumental-tahun-2014/

Benang Merah, Ketika Sepasang Hati Bertemu

Alhamdulillah, wa syukurillah. Dua kata ini seketika terucap saat seorang sahabat memberi kabar bahwa buku Benang Merah, Ketika Sepasang HatiBertemu telah terbit dan tersedia di Gramedia dan beberapa toko buku terkemuka lainnya di seluruh Indonesia. 

Benang Merah, Ketika Sepasang Hati Bertemu adalah antologiku yang ke-sekian. Seperti kebahagiaan dan keharuan yang dirasakan penyusun buku ini, Mbak Nurmayanti Zain, akupun merasakan hal yang tak jauh berbeda. Inspirasi dari tulisan Kupilih Engkau Karena Dia yang kupersembahkan dalam buku ini adalah  kisah nyata yang kualami beberapa waktu sebelum bersanding di pelaminan. Dan kini, menjelang setahun pernikahan, buku Benang Merah hadir dan melengkapi kebahagiaan kami. Maka tak salah jika Benang Merah, Ketika Sepasang Hati Bertemu, dipilih sebagai judul buku yang memang menjadikan cinta sebagai suguhan utamanya.
Bersama : Nurmayanti Zain, Hima Rain, Ahmad Fauzi, Rezky Batari Razak, Muhammad Scilta Riska, Annur El Karimah, Irda Handayani, Abdur Rosyid, Hariyanto Wijoyo, Ar Rifa’ah, Haris Samaranji, JiahAl Jafara, Siti Rahmadayanti, Arrabby Ahmady, Nurul Fadilah, Dina Desriany, Insan Robbani, Sun, Wawan Setiawan, Alaika Abdullah , Mugniar Marakarma, buku ini kami tulis karena, dengan, untuk dan atas nama cinta.
 Judul: BENANG MERAH, Ketika Sepasang Hati Bertemu
Pengarang: Nurmayanti Zain
Penyunting: Dewi Widyastuti
Desainer: Meita Safitri
Ilustrasi Cover: Apple Heart Illustration (Ulfa Febryanti Zain)
Penerbit: Qibla (Imprint PT Bhuana Ilmu Populer)
Ukuran: 14 x 22 cm
Tebal: xviii + 126 halaman
ISBN 10: 602-249-391-9
ISBN 12: 978-602-249-391-4
Terbit: November 2013
Harga: Rp 33.000,-
Buku Benang Merah, Ketika Sepasang Hati Bertemu ini bisa Anda dapatkan di Gramedia, Togamas dan toko buku terkemuka lainnya di seluruh Indonesia. Untuk pemesanan langsung kepada penulis, bisa mengirimkan email ke admin@nurmayantizain.com dengan format pemesanan : BENANG MERAH # NAMA LENGKAP # ALAMAT LENGKAP # JUMLAH # NO TELP

 

 Endorsement:
Benang Merah, luar biasa. Sebuah buku tentang cinta yang sebenarnya biasa tapi mampu menjadi sesuatu yang amaze. Dikemas secara ringan dan berbahasa renyah tapi sarat ilmu serta pilihan diksi yang menyentuh. Jujur, buku ini buku tentang cinta terbaik yang pernah saya baca. Semoga tiap pembaca mampu menilik benang merah dalam tiap kisah yang disajikan. 
(Ria Hidayah, Guru, Penulis Lepas, Crafter, Mahasiswi Universitas Sriwijaya, Indralaya)

Keren sekali gaya menulisnya. Ditambah lagi ceritanya bagus banget. Plus puisinya bikin nangis, Subhanallah keren! Benang Merah yang sangat menginspirasi. Ajaib, tulisannya membuatku bangkit!  
(Wita Adriyana Wardani, Freelancer, Mataram)

Benang Merah, di balik setiap halamannya tersimpan makna cinta yang begitu lucu dan jujur. Dengan gaya bahasa sederhana, penulis menyulap kisah cintanya menjadi lebih hidup, mengesankan dan mengharukan.  

(Rezki Amaliah, Pelajar SMA, Makassar)

Jadi, tunggu apa lagi? Masukan Benang Merah, Ketika Sepasang Hati Bertemu dalam daftar buku yang akan Anda beli. Insya Allah, di buku ini Anda akan mendapatkan apa yang Anda inginkan.

Kupilih engkau karena Dia.
Dia yang menghadirkan perasaan indah ke dalam lubuk setiap hamba-Nya.
Dan keindahan itu aku rasa bersama dengan kehadiranmu, 
mengisi  hari-hari dan  juga hatiku.
Special thank to Mbak Maya.  “Barakallahu laka wa baraka ‘alaik, wa jama’a bainakuma fi khair”  Amin.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.