Bukan FIFO Atau LIFO

Tag

, , ,

*seri ingat mati #5

Sebuah pesan singkat masuk ke handphoneku sesaat sebelum aku memulai aktifitas harianku. Benar-benar singkat, namun mampu mengembalikan ingatanku pada sebuah kenangan mengharukan yang sempat terlupakan.

Lima bulan lalu, bersama lima rekan kerja lainnya ( termasuk si pengirim pesan ),kami bertaziah ke keluarga salah satu rekan kerja kami yang kembali kepada penciptanya setelah tiga bulan berjuang melawan penyakit yang menyerang organ bagian dalamnya.

Keharuan langsung terasa ketika kami tiba di kediaman orang tua almarhum. Istri almarhum bahkan kembali menangis saat menyambut kedatangan kami. Aku yang mengenal almarhum cukup dekat, tekun menyimak cerita ayah almarhum yang meski kedua matanya tak lagi basah, tapi dari warna merah yang tersisa tergambar jelas betapa duka mendalam masih ia rasakan.

Siapapun orangnya, dan bagaimanapun caranya, rasa kehilangan itu sama, sedih, hingga seringkali air mata yang mewakilinya. Namun dari beberapa yang pernah kutemui, rasa kehilangan dan duka mendalam lebih terasa ketika yang meninggal usianya lebih muda, agak berbeda apabila yang meninggal dunia sudah lanjut usia. Begitupun yang kutemui di keluarga ini. Usia almarhum yang relatif masih muda, membuat keluarga terutama sang ayah sulit untuk meredam kesedihan.

Dari orang berbeda, aku juga pernah menemui hal yang – hampir – sama. Seorang ibu berkali-kali pingsan di hadapan jenazah putri kandungnya yang berusia separuh dari usianya.

Jika dalam manajemen perdagangan atau pergudangan dikenal sistem FIFO ( first in first out, yang pertama masuk, pertama keluar ) dan juga LIFO ( last in first out, yang terakhir masuk, pertama keluar ) maka dalam hal kematian tidak ada istilah FIFO maupun LIFO. Tidak ada aturan bahwa siapa yang lahir lebih dulu dia yang akan mati duluan, sementara yang lahir belakangan matinyapun belakangan, atau sebaliknya.

Bila ada seorang anak tersedu di acara pemakaman orang tuanya dianggap wajar, maka seorang nenek yang terisak pilu di hadapan jenazah cucunya yang baru saja lahir ke duniapun bukanlah sebuah keanehan. Malaikat Izrail  tidak pernah salah melaksanakan tugasnya. Ia akan menjemput orang yang tepat, pada waktu dan tempat yang tepat pula, sesuai dengan yang Allah tetapkan ketika usianya baru memasuki empat bulan dalam kandungan.

Keliru besar apabila ada orang yang berbuat sesuka hati menuruti hawa nafsunya dengan anggapan dirinya masih muda, masih banyak orang-orang yang lebih tua dari usianya, sebab sekali lagi dalam persoalan kematian, tidak berlaku sistem FIFO seperti halnya dalam dunia perdagangan dan pergudangan.

Tentu ada sebuah hikmah mengapa Allah menjadikan kematian sebagai salah satu rahasia Nya. Jika saja diberlakukan sistem FIFO, maka para ahli maksiat akan terus memperturutkan hawa nafsunya selama orang lain yang terlahir sebelum dia masih ada.

Harus selalu kita ingat bahwa kapanpun, di manapun dan dengan cara bagaimanapun maut bisa saja datang menjemput. Jangan pernah berfikir usia masih muda, badan masih sehat, lantas menunda-nunda kewajiban kita selaku makhluk kepada penciptanya. Ingatlah bahwa siapapun kita, sadar atau tidak sadar, sebenarnya kita sedang berada dalam antrian yang kita tidak tahu nomor berapa, setelah siapa. Yang harus diingat, dalam hal ini ( kematian ) tidak berlaku sistem FIFO maupun LIFO.

Antrian Tak Bernomor

Tag

,

*seri ingat mati #4

“Nomor antri berapa, Nak?” tanya lelaki tua yang duduk di sebelahku. Siang itu aku sedang berada di ruang tunggu sebuah bank untuk satu keperluan.Ketika kusebut nomor antrianku, lelaki tua itu bergumam pelan.

“Kalau begitu, saya lebih dulu,” ia memperlihatkan nomor antriannya.

Aku mengangguk, tersenyum padanya.

Tentu saja, lelaki tua itu akan mendapatkan giliran lebih dulu. Bukan karena usianya lebih tua dariku, tapi karena nomor antri yang dipegangnya lebih kecil dari nomor antrianku. Aturannya memang begitu. Siapa datang lebih awal, dia akan dilayani lebih dulu.

Disadari atau tidak, sebenarnya kita sama-sama sedang berada dalam antrian. Antri untuk mati, menuju kehidupan yang abadi. Tapi antrian yang satu ini sangat berbeda. Tak ada nomor antrian. Aturan siapa yang lahir terdahulu, dia yang mati lebih dulu, tidaklah berlaku.

Di nomor urut berapa, setelah siapa, tak ada yang tahu kapan giliran kita. Satu yang jelas, setiap hari antrian kita semakin maju. Semua hanya soal waktu. Karenanya jangan sampai terlena kemilau dunia. Pastikan bahwa ketika tiba pada giliran, kita sudah siap dengan perbekalan yang kita butuhkan, yaitu amal kebaikan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.216 pengikut lainnya.